Minggu, 21 Oktober 2012

MAKALAH DIABETES MELLITUS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Proses menua adalah keadaan yang tidak dapat dihindarkan. Manusia seperti halnya semua makhluk hidup didunia ini mempunyai batas keberadaannya dan akan berakhir dengan kematian. Perubahan-perubahan pada usia lanjut dan kemunduran kesehatannya kadang-kadang sukar dibedakan dari kelainan patologi yang terjadi akibat penyakit. Dalam bidang endokrinologi hampir semua produksi dan pengeluaran hormon dipengaruhi oleh enzim-enzim yang sangat dipengaruhi oleh proses menjadi tua.
Pola hidup masyarakat saat ini harus diakui sangat praktis, terlebih untuk pola makan. Masyarakat dimanjakan dengan berbagai jenis makanan yang sangat cepat untuk disajikan dan bahkan instan. Ditambah dengan jenis makanan dari mancanegara yang menurut generasi sekarang disebut dengan modern. Fakta bahkan menunjukkan sebagian besar masyarakat begitu bangga akan  fast food atau junk food. Tanpa mereka ketahui, dari perilaku tersebut, penyakit degeneratif mengintai setiap saat. Penyakit yang masuk dalam kelompok penyakit degeneratif antara lain diabetes mellitus atau kencing manis, stroke, jantung koroner, kardiovaskular, obesitas, penyakit lever, penyakit ginjal dan lainnya (Triawati, 2011).
Diabetes mellitus yang terdapat pada usia lanjut gambaran klinisnya bervariasi luas dari tanpa gejala sampai dengan komplikasi nyata yang kadang-kadang menyerupai penyakit atau perubahan yang biasa ditemui pada usia lanjut.
Penyakit kencing manis atau diabetes melitus merupakan suatu penyakit yang di tandai dengan kadar gula (glukosa) dalam darah tinggi, diabetes melitus merupakan sekelompok penyakit metabolik yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah (hiperglikemia) akibat jumlah dan atau fungsi insulin terganggu (Iskandar, 2009).
Dalam makalah ini dibahas masalah penyakit diabetes pada usia lanjut beserta asuhan keperawatannya.
B.     Tujuan
1.      Tujuan umum
Dapat melakukan simulasi asuhan keperawatan, penkes, pengelolaan asuhan keperawatan, nursing advokasi, mengidentifikasi masalah penelitian dengan kasus gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia dengan memperhatikan aspek legal dan etis.

2.      Tujuan khusus
a.       Mahasiswa mampu melakukan simulasi asuhan keperawatan dengan kasus gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia dengan memperhatikan aspek legal dan etis.
b.      Mahasiswa mampu melakukan simulasi pendidikan kesehatan dengan kasus gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia dengan memperhatikan aspek legal dan etis.
c.       Mahasiswa mampu mengidentifikasi masalah-masalah penelitian yang berhubungan dengan system endokrin dan menggunakan hasil-hasil penelitian dalam mengatasi masalah gangguan system endokrin.
d.      Mahasiswa mampu melakukan simulasi pengelolaan asuhan keperawatan pada sekelompok klien dengan gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia dengan memperhatikan aspek legal dan etis.
e.       Mahasiswa mampu melaksanakan fungsi advokasi pada kasus dengan  gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia.
f.       Mahasiswa mampu mendemonstrasikan intervensi keperawatan pada kasus dengan gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia sesuai dengan standar yang berlaku dengan berfikir kreatif dan inovatif sehingga menghasilkan pelayanan yang efisien dan efektif.


C.    Rumusan masalah
Dilihat dari latar belakang diatas didapatkan rumusan masalahnya yaitu:
Bagaimanamelakukan simulasi asuhan keperawatan, penkes, pengelolaan asuhan keperawatan, nursing advokasi, mengidentifikasi masalah penelitian dengan kasus gangguan system endokrin pada berbagai tingkat usia dengan memperhatikan aspek legal dan etis?”

D.    Metode penulisan
Metode penulisan dalam makalah ini adalah:
BAB 1 Pendahuluan didalamnya mengenai latar belakang, tujuan, rumusan masalah, dan metode penulisan makalah.
BAB 2 Landasan Teori didalamnya mengenai teori tentang anatomi fisiologi system endokrin, konsep penyakit tentang diabetes mellitus, asuhan keperawatan tentang penyakit diabetes mellitus, simulasi pendidikan kesehatan tentang penyakit diabetes mellitus, hasil penelitian tentang penyakit diabetes mellitus, serta prinsip legal dan etis dengan ganggguan penyakit diabetes mellitus.
BAB 3 Pembahasan Kasus didalamnya mengenai kasus yang dibahas serta jawaban kasus.
BAB 4 Penutup yang didalamnya terdapat kesimpulan dan saran mengenai masalah gangguan pada system endokrin.
Dan juga terdapat daftar pustaka yang isinya adalah refensi yang diambil dari buku – buku dan dari teknologi komputer seperti internet membantu untuk melengkapi isi makalah.


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Anatomi Fisiologi System Endokrin
1.      Definisi
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai "pembawa pesan" dan dibawa oleh aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh, yang selanjutnya akan menerjemahkan "pesan" tersebut menjadi suatu tindakan. Sistem endokrin tidak memasukkan kelenjar eksokrin seperti kelenjar ludah, kelenjar keringat, dan kelenjar-kelenjar lain dalam saluran gastroinstestin.
Sistem endokrin terdiri dari kelenjar-kelenjar endokrin. Kelenjar endokrin merupakan sekelompok susunan sel yang mempunyai susunan mikroskopis sangat sederhana. Kelompok ini terdiri dari deretan sel-sel ,lempengan atau gumpalan sel disokong oleh jaringan ikat halus yang banyak mengandung pembuluh kapiler. Kelenjar endokrin mensekresi substansi kimia yang langsung dikeluarkan ke dalam pembuluh darah, Sekresinya disebut hormon. Hormon yaitu penghantar (transmitter) kimiawi yang dilepas dari sel-sel khusus ke dalam aliran darah. Selanjutnya hormon tersebut dibawa ke sel-sel target (responsive cells) tempat terjadinya efek hormon.
Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Kelenjar eksokrin melepaskan sekresinya ke dalam duktus pada permukaan tubuh, seperti kulit, atau organ internal, seperti lapisan traktus intestinal.
Fungsi endokrin diantaranya adalah :
a.       fungsi metabolisme tubuh
b.      fungsi pertumbuhan
c.       fungsi sex
d.      fungsi pencernaan
e.       fungsi kardiovaskuler
2.      Kelenjar Endokrin
a.       Adrenal
http://3.bp.blogspot.com/_4IwHTsRufBg/S7gXx_u5y3I/AAAAAAAACpE/ZlCKBzhUwE4/s1600/kelejar+adrenal+-+anak+ginjal.bmp
Kelenjar adrenal atau suprarenal menempel pada kutub superior ginjal. kelenjar adrenal kiri dan kanan tidak simetris pada sumbu tubuh, kelenjar adrenal sebelah kanan lebih inferior, terletak tepat diatas ginjal, dan bentuknya lebih piramid shape. Sementara kelenjar suprarenal kiri lebih inferior, lebih kearah batas medial ginjal kiri, dan bentuknya lebih cressent shape. Masing-masing berukuran tebal sekitar 1 cm, lebar apex sekitar 2 cm, lebar basal sekitar 5 cm. beratnya antara 7-10 gr.
Kelenjar ini dibagi menjadi:
-          Bagian korteks yang mencakup 80-90% organ, terletak bagian luar, dan berwarna kekuningan
-          Bagian medula yang terletak pada bagian dalam, berwarna gelap. Keduanya memiliki fungsi endokrin, bagian korteks memproduksi kortikosteroid (kortisol, kortikosteron) dari kolesterol, diregulasi ACTH. Bagian medulla memproduksi epineprin dan norepineprin, diregulasi saraf simpatis
Kelenjar adrenal terletak retroperitoneal, dibungkus kapsul jaringan ikat dengan banyak jaringan adiposa. Kapsul jaringan ikat tersebut membentuk septa ke arah parenkim yang masuk bersama pembuluh darah dan saraf.
Kelenjar suprarenal merupakan salah satu organ yang paling kaya vaskularisasi. tiap kelenjar mendapat perdarahan dari tiga arteri yang berbeda:
-          Arteri Phrenic inferior yang akan membentuk arteri suprarenal superior
-          Aorta yang akan membentuk arteri suprarenal medial
-          Arteri renalis yang akan membentuk arteri suprarenal inferior.
-          Korteks adrenal :
a)      berasal dari mesoderm à hormon kortikostreoid dibagi 3:
ü  Luar (zona glomerulosa)à sekresi mineralokortikoid
ü  Tengah (zona fasikulata)àglukosa
ü  Dalam (zona retikularis)à gonado kortikoid
b)      Medulla
Berasal dari ektodermà menghasilkan hormon adrenalin dan noradrenalin:Disintesis oleh medula adrenal. Disebut juga adrenalin & noradrenalin. Simpatomimetik à pengaruh menirukan yang dihasilkan oleh bgn simpatetik ANS. Sprti : glukortikoid dari adrenal = membantu tubuh melawan stress.
Cabang-cabang ketiga arteri tersebut membentuk pleksus subcapsular. Dari pleksus tersebut muncul arteri kortikal pendek, selanjutnya membentuk sinusoid berpori, dan bermuara ke pleksus vena suprarenal di medula. selanjutnya vena suprarenal kiri bermuara ke vena renal kiri dan vena suprarenal kanan bermuara ke vena cava inferior. selain arteri kortikal pendek, dari pleksus subcapsular, juga muncul arteri kortikal panjang yang tidak bercabang. menembus korteks sampai medulla.
Fungsi kelenjar adrenal diantaranya:
-          Mengatur keseimbangan air, elektrolit, dan geram-garam
-          Mengatur/ memengaruhi metabolisme lemak karbohidrat dan protein
-          Memengaruhi aktifitas jaringan limfoid


b.      Hipotalamus
Hipotalamus merupakan struktur yang menjadi dasar ventrikel ketiga otak. Struktur ini tampak pada pembelahan sagital otak, terdiri dari badan mamillari, kiasma opticum, dan tuber cinereum yang bergabung dengan infundibulum dari hipofisis. Pada bagian posterior, hipotalamus berbatasan dengan tegmentum mesensefalon. Pada bagian anterior berbatasan dengan kiasma opticum dan bersatu dengan membran basal area olfaktori. Dan pada bagian lateral, hipotalamus , berbatasan dengan jaras optic dan crura cerebri serta bergabung dengan daerah subtalamus tanpa garis batas yang jelas.
Hipotalamus mendapat perdarahan dalam jumlah besar dari arteri-arteri kecil percabangan dari Sirkulus Willis. Susunan arteri hipotalamus antar individu bervariasi namun membentuk pola umum yang sama, yaitu membentuk:
-          Grup anterior, berasal dari arteri karotis interna, cerebral anterior, dan bagian posterior arteri comunicans
-          Grup intermedia, berasal dari bagian posterior arteri comunicans
-          Grup posterior, berasal dari arteri serebral posterior, bagian posterior arteri comunicans, dan arteri basilaris
Bagian infundibulum, eminensia media, dan terusan hipotalamus diperdarahi oleh arteri hipofisial superior, cabang dari arteri carotis interna. Aliran darah ini selanjutnya akan memasuki sistem portal hipotalamus-hipofisis yang memperdarahi hipofisis bagian anterior. Aliran darah arteri ke hipotalamus selanjutnya dialirkann ke vena-vena kecil yang bermuara ke vena cerebral anterior, vena basalis, atau vena cerebral basalis.
Hipotalamus dan hipofsis merupakan satu axis yang berfungsi mengendalikan fungsi banyak kelenjar endokrin (tiroid, adrenal, gonad) dan berbagai aktivitas fisiologi.
Hipotalamus berfungsi mengatur pelepasan hormon-hormon hipofisis.


Hormon hipotalamus dapat dibagi menjadi:
-          Disekresi ke hypophysial portal blood vessels
-          Disekresi oleh neurohipofisis langsung ke sirkulasi sistemik
http://3.bp.blogspot.com/-XCdRUpQWIAw/TdVQUvmn2iI/AAAAAAAAABg/K6xnNY4KDjQ/s1600/endokrin.jpg
c.       Hipofisis
Hipofisis atau kelenjar pituitari berukuran kira kira 1×1 cm, tebalnya sekitar 1/2 cm, dan beratnya sekitar 1/2 gr pada pria, dan sedikit lebih besar pada wanita. Kelenjar ini terletak di dalam lekukan tulang sphenoid yang disebut sella tursika, dibelakang kiasma optikum. Hipofisis memiliki dua subdivisi, yaitu:
-          Adenohipofisis, pada bagian anterior, hasil perkembangan dari evaginasi ektoderm dorsal atap faring embrionik (stomodeum)
-          Neurohipofisis, hasil perluasan diensefalon.
Selanjutnya adenohipofisis dan neurohipofisis menempel membentuk kelenjar tunggal. Secara topografis, kelenjar ini merupakan salah satu yang paling dilindungi dan tidak terjangkau dalam tubuh. Hipofisis dilapisi duramater dan dikelilingi oleh tulang kecuali pada bagian infundibulum berhubungan dengan hipotalamus.
Hipofisis mendapat perdarahan dari arteri karotis interna. Arteri hipofisial superior memperdarahi pars tuberalis, infundibulum, dan membentuk sistem pleksus kapiler primer pada bagian eminensia media. Arteri hipofisial inferior terutama memperdarahi lobus posterior walau memberi sedikit cabang ke lobus anterior. Aliran darah dari arteri hipofisial lalu akan membentuk pleksus kapiler sekunder pada pars distalis dan berlanjut ke vena portal hipofisial.
Sekressi hormon hipofisis diregulasi oleh hipotalamus. Hipotalamus sendiri mendapat input dari berbagai area otak dan feedback dari kelenjar lain. Untuk mengatur kerja hipofisis, hipotalamus akan melepaskan messenger ke pleksus kapiler primer eminensia media, kemudian dialirkan ke pleksus kapiler sekunder pars distalis, disini hormon meninggalkan kapiler, menyampaikan rangsang pada sel parenkim.
Bagian kelenjar hipofisis ini berasal dari lanjutan jaringan otak . Hormon yang dihasilkan :
-          Oksitosin à mengatur kontraksi otot2 dinding uterus
-          Vasopressin (ADH) à mengatur kontraksi otot2 arteri kecil sehingga dapat meningkatkan tekanan darah (pituirin) à merangsang pipa2 nefron dlm ginjal utk menyerap kembali air yang disaring, shg urine menjadi pekat. Keduanya dikendalikan oleh nuclei di hipotalamus ® Neuroendocrine reflexes
d.      Adeno Hipopisis
Berasal dari atap rongga mulut dalam perkembangannya/tidak langsung berhubungan dengan otak karena berasal dari stomadeum .Hormon yang dilepaskan:
-          Hormon Tirotrofik à kelenjar tiroid
-          Hormon ACTH à korteks adrenal (kortisol)
-          Hormon Gonadotrofik àgonade; FSH&LH : esterogen & progesteron
-          Somatotrofin (hormon prtumbuhan) à melalui kartilago epifisealis pada tulang panjang
-          Prolaktin à kelenjar susu Intertitial Cell Stimulating Hormone(ICSH)
e.       Kelenjar Tiroid
Terdapat Di leher, di bawah laring, bentuk seperti perisai .Pelepasan hormon tiroid dirangsang oleh kelenjar adenohipofisis (ACTH). Rx yang diperlukan unt sintesis dan sekresi hormon, tranpor aktif ionida (senyawa yodium). Bila kekurangan yodium menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid (gondok’en)
Fungsi Kelenjar Tiroid Diantaranya:
-          Bekerja sebagai perangsang proses oksidasi
-          Mengatur penggunaan oksidasi
-          Mengatur pengeluaran CO2
-          Metabolik dlm hati mengatur susunan kimia dalam jaringan
-          pada anak mempengaruhi pekembangan fisik dan mental
http://4.bp.blogspot.com/-eQLKf6eEqto/TdVQdPgcNkI/AAAAAAAAABo/53hg6pwbNDs/s1600/tiroid.jpg
f.       Kelenjar Paratiroid
Terdapat 2 pasang melekat pada begian belakang kelenjar tiroid .Jumlah 4 buah berpasangan à hormon paratiroksin .Diperlukan untuk pemanfaatan kalsium & fosfat .Pelepasan hormon ini dirangsang oleh hormon yang dihasilkan oleh kelenjar adenohipofisis.
Fungsi Dari Kelenjar Paratiroid Adalah :
-          Memelihara konsentrasi ion kalsium yang tetap dalam plasma
-          Mengontrol ekskresi kalsium dan fosfat melalui ginjal
-          Menstimulasi resorpsi tulang sehingga menambah kalsium dalam darah, jika kalsium berkurang
-          Menstimulasi dan mentranspor kalsium & fosfat melalui membran sel 
g.      Pankreas
Pankreas terletak pada bagian dalam peritoneum, strukturnya dibagi menjadi 4 bagian kaput, kolum, korpus, dan kauda.Ukurannya kurang lebih lebar 5 cm, tebal 1-2 cm, panjang sekitar 25 cm, dan beratnya sekitar 150 gr.
Pankreas memiliki kapsul jaringan ikat tipis yang membentuk septa, membagi pankreas menjadi lobus. Pembuluh darah dan persarafan pankreas masuk melalui septa ini.
Pankreas merupakan kelenjar yang memiliki fungsi eksokrin, yaitu menghasilkan empedu dan fungsi endokrin, yaitu menghasilkan hormon. Bagian endokrin pankreas tersusun atas aggregasi sel, disebut Pulau Langerhans, jumlahnya sekitar satu juta, tersebar diantara asinus, dengan kecenderungan lebih banyak pada bagian kauda. Pulau langerhans tersusun atas sekitar 3000 sel yang terdiri dari:
-          sel alfa (70%) → menghasilkan glucagon
-          sel beta (20%) → menghasilkan insulin
-          sel delta (5%) → menghasilkan somatostatin
-          sel G (1%) → menghasilkan gastrin
-          sel F atau sel PP (1%)→ menghasilkan polipeptida pancreas

B.     Konsep Penyakit Diabetes Mellitus
1.      Definisi
Diabetes Melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dan bersifat degeneratif yang dimanifestasikan oleh kehilangan toleransi karbohidrat dengan karateristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua – duanya dan merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sangat cepat peningkatannya (American Diabetes Association, 1998 dalam Soegondo, 2007).
Diabetes melitus merupakan keadaan ketika kadar gula dalam darah tingi melebihi kadar gula darah normal. Penyakit ini biasanya disertai berbagai kelainan metabolisme akibat gangguan hormonal dalam tubuh (Widjadja, 2009).
Diabetes Melitus mempunyai dua tipe utama, yaitu Diabetes tipe 1 dan Diabetes tipe 2. Sebagian besar diabetes tipe 1 banyak terjadi pada orang muda dibawah usia 35 tahun. Diabetes tipe 2 merupakan tipe diabetes yang paling banyak ditemukan, yaitu 90 – 95% dari seluruh pengidap diabetes dan sering terjadi pada usia diatas 45 tahun (Smeltzer & Bare, 2002).

2.      Klasifikasi Diabetes Melitus
Menurut American Diabetes Association 2005 (ADA 2005) mengklasifikasi klasifikasi diabetes melitus, yaitu :
a.       Diabetes tipe I : Disebut juga IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus) atau Juvenil Diabetes Melitus.
Diabetes melitus jenis ini disebabkan oleh kurangnya atau tidak adanya produksi insulin kaena reaksi auto imun akibat adanya peradangan pad sel beta (insulitis) yang ahirnya menyebabkan produksi insulin terganggu.
b.      Diabetes Melitus tipe II : Disebut juga NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus) kadar insulin normal bahkan mengalami peningkatan, tetapi jumlah reseptor insulin  pada permukaan sel kurang, sehingga tetap saja gula dalam darah tidak bisa sampai ke dalam sel.
c.       Diabetes melitus tipe spesifik lain, akibat dari : Diabetes tipe ini diakibatkan oleh infeksi, penyakit endokrin pankreas, endokrinopati, obat-obatan, malnutrisi dan sindroma genetik.
d.      Diabetes Melitus Gestasional  GDM (Gestasional Diabetes Melitus).
Diabetes melitus pada kehamilan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu diabetes melitus yang memang sudah diketahui sebelumnya pada penderita yang sedang hamil DMH (Diabetes Melitus Pragestasional) diabetes ini termasuk tipe I (IDDM) dan sebelumnya tidak mengidap diabetes melitus atau baru mengidap diabetes melitus dalam masa kehamilan (Pregnacy Induced Diabetes Melitus).




3.      Tanda dan Gejala
a.       Gejala diabetes tipe I muncul secara tiba-tiba pada saat usia anak-anak sebagai akibat dari kelainan genetika, sehingga tubuh tidak memproduksi insulin dengan baik. Gejala-gejalanya antara lain adalah:
-          Sering buang air kecil
-          terus menerus merasa lapar dan haus
-          berat badan menurun
-          merasa kelelahan penglihatan kabur
-          infeksi pada kulit yang berulang, menigkatnya kadar gula dalam urin dan cenderung terjadi pada mereka yang berusia di bawah 20 tahun.
b.      Gejala diabetes tipe II muncul secara perlahan-lahan sampai menjadi gangguan yang jelas, dan pada tahap permulaan seperti pada gejala diabetes tipe I, yaitu :
-          Cepat lelah dan merasa tidak fit
-          merasa lapar dan haus
-          kelelahan berkepanjangan dan tidak ada penyebabnya
-          mudah sakit yang berkepanjangan dan biasanya terjadi pada usia di atas 40 tahun tapi prevalensianya kini semakin tinggi pada golongan anak-anak dan remaja (Lanny, 2006).
Menurut Hasan Badawi (2009) gejala awal diabetes melitus biasanya diasebut dengan 3 P, yaitu :
a.       Poliuria (banyak kencing)
Hal ini terjadi ketika kadar gula darah melebihi ambang ginjal yang mengakibatkan glukosa dalam urin menarik air sehingga urin menjadi banyak. Maka setiap kali para penderita diabetes melitus mengalami buang air kecil dengan intensitas durasi melebihi volume normal (poliuria).
b.      Polidipsi (banyak minum)
Karena sering buang air kecil, setiap kali para pasien diabetes melitus akan banyak minum (polidipsi). Karena demikianlah kita sering mendapati para pasien mengalami keluhan lemas, banyak makan (polifagi).
c.       Polifagi (banyak makan)
Seorang pasien diabetes yang baru makan akan mengalami ketidakcukupan hormon insulin untuk memasukan gukosa ke dalam sel, hal ini menyebabkan tubuh akan selalu merasa kelaparan, sehingga tubuh sering terasa lemah. Kompensasinya seorang pasien diabetes akan makan lebih banyak lagi.
Gejala Lanjutan :
a.       Berat badan berkurang
Ketika proses sekresi pankreas kurang mencukupi jumlah hormon insulin untuk mengubah gula menjadi tenaga, tubuh akan menggunakan simpanan lemak dan protein di tubuh ini menyebabkan berkurangnya berat badan.
b.      Penglihatan kabur
Kadar gula darah yang tinggi dapat menyebabkan perubahan pada lensa mata sehingga penglihatan kabur walaupun baru mengganti kaca mata.
c.       Cepat lelah
Karena gula di dalam darah tidak dapat di ubah menjadi tenaga sel-sel tubuh maka cepat merasa lelah, kurang tenaga dan sering mengantuk.
d.      Luka yang sulit disembuhkan
Pada diabetes, terjadi penurunan daya tubuh terhadap infeksi sehingga bila timbul luka akan sulit sembuh. Tidak menutup kemugkinan, jika terjadi infeksi berat di daerah kaki, akan berpotensi di amputasi sehingga akan mengalami cacat permanen.
Gejala kronis :
a.       Impoten
b.      kerusakan ginjal
c.       Gangren (infeksi pada kaki hingga membusuk)
d.      Kebutaan
e.       Stroke
f.       serangan jantung hingga kematian mendadak.

4.      Etiologi dan Patofisiologi
a.       Diabetes Tipe I
Diabetes tipe I ini biasanya menyerang anak-anak dan orang muda. Pada diabetea tipe I terdapat ketidak mampuan untuk menghasilkan insulin karena sel-sel beta pankreas telah dihancurkan oleh proses autoimun. Kombinasi faktor genetik, imunitas dan lingkungan (virus) turut menimbulkan destruksi sel beta glukosa yang terdapat dalam makanan tidak dapat disimpan dalam hati dan tetap berada dalam darah. Jika konsentrasi glukosa darah cukup tinggi, ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa, akibatnya terdapat glukosa dalam urin (glikosuria) atau biasa disebut kencing manis.
Ketika glukosa yang berlebihan diekresikan ke urin, ekresi ini akan disertai pengeluaran cairan yang berlebihan yang dinamankan diurisis asmotik. Sebagai akibat kehilangan cairan yang berlebihan pasien akan mengalami peningkatan dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia) (Brunner, 2002).
b.      Diabetes Melitus Tipe II
Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa dalam sel.
Pada tahap awal abnormalitas yang paling utama adalah berkurangnya sensitifitas terhadap insulin, yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula dalam darah. Pada tahap ini, hiperglikemia dapat diatasi dengan berbagai cara dan disertai obat anti diabetes yang dapat mengurangi produksi glukosa dari hepar, namun semakin parah penyakit, sekresi insulin pun semakin berkurang, dan terapi dengan insulin kadang dibutuhkan. Penyebab resistensi insulin pada diabetes tipe II belum diketahui secara pasti, namun beberapa faktor yang memiliki peran penting terjadinya hal tersebut yaitu obesitas, diet tinggi lemak dan rendah karbohidat, kurang latihan dan olahraga serta faktor keturunan.
Diabetes melitus tipe II tidak bias diobati sampai sembuh, hanya dikontrol dalam pengendalian kadar gula darah sehingga tidak terjadi komplikasi yang lebih buruk karena komplikasi diabetes melitus dapat merusak banyak organ seperti mata, otak, ginjal, jantung dan dapat berakibat fatal (Fitria, 2009).
c.       Diabetes Mellitus gestasional
Selain dua tipe diabetes diatas, ada juga diabetes yang khusus dialami oleh wanita yang sedang mengandung disebut diabetes gestasional. Hal ini disebabkan oleh perubahan hormon tubuh, diabetes ini bisa disembuhkan dan biasanya hilang setelah persalinan (Jacken, 2005).
d.      Diabetes Melitus Tipe Lain
Dalam skala yang lebih kecil lagi, ada beberapa kasus diabetes yang disebabkan oleh sindrom genetik tertentu (seperti perubahan fungsi sel beta dan peruabahan fungsi insulin secara genetik) gangguan pada pankreas terutama pada pencandu alkohol,  diabetes yang diakibatkan oleh penggunaan obat dan zat kimia, infeksi, dan sebab imunologi (Jacken, 2005).

5.      Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya Diabetes Melitus
a.       Genetik
Faktor genetik merupakan faktor yang paling penting pada diabetes melitus. Kelainan yang diturunkan dapat langsung mempengaruhi sel beta dan mengubah kemampuannya untuk mengenali dan menyebarkan sel rangsang sekretoris insulin. Keadaan  ini meningkatkan kerentanan individu tersebut terhadap faktor – faktor lingkugan yang dapat mengubah integritas dan fungsi sel beta pankreas (Price & Wilson, 2002).
Secara ganetik resiko diabetes melitu tipe II meningkat pada saudara kembar monozigotik seorang diabetes melitus tipe II, ibu dari neonatus yang beratnya lebih dari 4 kilogram, individu dengan gen obesitas, ras yang mepunyai insidensi tinggi terhadap diabetes melitus (Peice & Wilson, 2002).
b.      Usia
Diabetes tipe II biasanya terjadi setelah  usia 30 tahun dan semakin sering terjadi setelah usia 40 tahun, selanjutnya terus meningkat pada usia lanjut. Usia lanjut yang mengalami gangguan toleransi glukosa mencapai 50 – 92% (Sudoyo, 2006).
Proses menua yang berlangsung setelah usia 30 tahun mengakibatkan perubahan anatomis, fisiologis, dan biokimia. Perubahan dimulai dari tingkat sel, berlanjut pada tingkat jaringan dan ahirnya pada tingkat organ yang dapat mempengaruhi fungsi homeostasis. Komponen tubuh yang mengalami perubahan adalah sel beta pankreas yang mengahasilkan hormon insulin, sel-sel jaringan terget yang menghasilkan glukosa, sistem saraf, dan hormon lain yang mempengaruhi kadar glukosa.
c.       Berat Badan (Obesitas)
Obesitas adalah berat badan yang berlebihan minimal 20% dari berat badan idaman atau indeks massa tubuh lebih dari 25Kg/m2. Obesitas merupakan faktor utama penyebab timbulnya diabetes melitus tipe II, diperkirakan 80 – 90% paasien diabetes tipe II megalami obesitas (Medicastore, 2007). Obesitas menyebabkan respon sel beta pankreas terhadap glukosa darah berkurang, selain itu reseptor insulin pada sel diseluruh tubuh termasuk di otot berkurang jumlah dan keaktifannya kurang sensitif (Soegondo, 2007).
d.      Aktifitas
Aktifitas fisik berdampak terhadap aksi insulin pada orang yang beresiko diabetes melitus. Kurangnya aktifitas merupakan salah satu faktor yang ikut berperan dalam menyebabkan resitensi insulin pada diabetes melitus tipe II (Suyono, 2007).
e.       Diet
Pemasukan kalori berupa karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan, merupakan faktor eksternal yang dapat mengubah integritas dan fungsi sel beta pada individu yang rentan (Price & Wilson, 2002).
Individu yang obesitas harus melakukan diet untuk mengurangi pemasukan kalori sampai berat badannya turun mencapai batas ideal. Penurunan berat badan 2,5 – 7 Kg akan memperbaiki kadar glokosa darah (Soegondo, 2007).
f.       Stress
Stress adalah segala situasi dimana tuntutan non spesifik mengharuskan individu berespon atau melakukan tindakan (Poter & Perry, 1997). Reaksi pertama dari respon stress adalah terjadinya sekresi sistem saraf simpatis yang diikuti oleh sekresi simpatis adrenal medular dan bila stress menetap maka sistem hipotalamus pituitari akan diaktifkan. Hipotalamus mensekresi corticotropin releasing factor yang menstimulasi pituitari anterior memproduksi kortisol, yang akan mempengaruhi peningkatan kadar glukosa darah (Smeltzer & Bare, 2008).

6.      Komplikasi
Komplikasi dari diabetes melitus ada empat komplikasi menurut (Widjadja, 2009) diantaranya adalah :
a.       Komplikasi Akut :
-         Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan suatu keadaan penurunan kadar glukosa darah dengan gejala berupa gelisah, tekanan darah turun, mual, lemah, lesu. Sulit bicara, gangguan menghitung, keringat dingin pada muka dan bibir dan tangan kejang sampai koma.
-         Hiperglikemia
Hiperglikemia adalah suatu keadaan kelebiha gula darah yang biasanya disebabkan oleh makan berlebihan, stress akut karena penghentian obat antidiabetes secara mendadak. Gejala hiperglikemia antara lain adalah penurunan kesadaran serta dehidrasi.
-         Ketoasidosis
Ketoasidosis adalah keadaan penngkatan senyawa keton yang bersifat asam dalam darah yang berasal dari asam lemak hasil dari pemecahan sel-sel lemak jaringan. Kekurangan insulin berarti tidak ada zat yng di proses sebagai pemenuh energi.
-         Lactic Acidosis
Sel – sel tubuh menghasilkan asam lactic pada saat memproses glukagen menjadi energi. Jika terlalu bayak lactic dalam tubuh, maka kesehatan akan terganggu.
b.      Komplikasi Kronik :
-         Mikroangiopati merupakan penyakit pembuluh darah kecil seperti:
ü  Retinopati 
ü  Netropati
ü  Neuropati
-         pembuluh darah tepi dan pembuluh darah otak
-         makroangiopati yang mengenai pembuluh darah besar yaitu pembuluh darah jantung
ü  Kardiovaskuler
ü  Serebravaskuler
ü  Vaskuler perifer
-         Neuro diabetic
-         rentan infeksi seperti tuberculosis paru
-         infeksi saluran kemih.
 (Tucker, 1998 : 402)

7.      Penatalaksanaan Diabetes Melitus
Tujuan dari penatalaksananaan diabetes adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar gula darah dalam upaya untuk mengurangi terjadinya komplikasi vaskuler serta neuropatik, tujuan terapeutik pada penderita diabetes melitus adalah mencapai kadar gula darah normal tanpa terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien. Ada beberapa komponen dalam penatalaksanaan diabetes diantaranya adalah pemantauan dan pendidikan (Smeltzer & Bare, 2002), yaitu :
a.       Diet
Tujuan penatalaksanaan diet diantaranya memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin dan mineral), mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai, memenuhi kebutuhan energi, mencegah fluktuasi gula darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar gula darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman, praktis dan menurunkan kadar lemak darah jika meningkat.
b.      Latihan
Latihan atau olah raga sangat penting dalam penatalaksanaan diet diabetes melitus karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan akan menurukan kadar gula darah dengan meningkatkan pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian insulin, misalnya berjalan kaki, dan bersepeda santai.
c.       Pemantauan
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri, penderita diabetes dapat mengatur terapi untuk mengendalikan secara optimal. Caranya pengambilan setetes darah dari ujung jari tangan, aplikasi darah tersebut pada strip pereaksi khusus. Dan kemudian darah tersebut dibiarkan pada strip selama waktu tertentu kemudian bantalan pereaksi pada strip akan berubah warna kemudian dapat dicocockan pada peta warna, kemudian angka digital akan memperlihatkan kadar gula darahnya.
d.      Terapi
Pengobatan diabetes melitus tipe II didasarkan atas pemberian insulin dalam tubuh yang cukup sehingga memungkinkan metabolisme karbohidrat penderita normal. Tetapi optimum dapat dicegah bagian terbesar efek akut diabetes. Penderita diabetes diberi dosis tunggal salah satu preparat insulin bermasa kerja lama setiap hari, meningkatkan seluruh metabolisme karbohidrat sepanjang hari (Smeltzer, 2002).
e.       Pendidikan
Pendidikan disini adalah pendekatan pengajaran, khususnya pada pasien rawat jalan. Disini perawat berperan besar dalam memberikan informasi tentang diabetes melitus yang lebih ditekankan adalah bagaimana penatalaksanaan diabetes secara mendiri sehingga dapat menghindari komplikasi diabetes.

8.      Pemeriksaan Penunjang
a.       Glukosa darah sewaktu
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl).
Kadar glukosa darah sewaktu
ü  Plasma vena :
-          <100>
-          100 – 200 = belum pasti DM
-          >200 = DM
ü  Darah kapiler :
-          <80>
-          80 – 100 = belum pasti DM
-          > 200 = DM
b.      Kadar glukosa darah puasa
ü  Plasma vena :
-          <110>
-          110 – 120 = belum pasti DM
-          > 120 = DM
ü  Darah kapiler :
-          <90>
-          90 – 110 = belum pasti DM
-          > 110 = DM
c.       Tes toleransi glukosa
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
a.       Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b.      Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c.       Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl).


9.      Rounded Rectangle: (Etdiopatic). Faktor resiko: Obesitas, riwayat keluarga, (DM 2)Rounded Rectangle: Infeksi, endokrin pancreas, endokrinopati,obat2an, malnutrisi, sindrom genetic (DM 3)Rounded Rectangle: PHBS tidak baik, proses auto imun, genetic, lingkungan (virus) (DM 1)Pathway masalah keperawatan

 

C.    Konsep asuhan keperawatan pada penyakit diabetes mellitus
1.      Pengkajian
Pengkajian pada klien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus dilakukan mulai dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masa lalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari.
Hal yang perlu dikaji pada klien degan diabetes mellitus :
a.       Aktivitas dan istirahat :
Kelemahan, susah berjalan/bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan tidur, tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.
b.      Sirkulasi
Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada ekstremitas bawah, luka yang sukar sembuh, kulit kering, merah, dan bola mata cekung.
c.       Eliminasi
Poliuri,nocturi, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pucat.
d.      Nutrisi
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mual/muntah.
e.       Neurosensori
Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
f.       Nyeri
Pembengkakan perut, meringis.
g.      Respirasi
Tachipnea, kussmaul, ronchi, wheezing dan sesak nafas.
h.      Keamanan
Kulit rusak, lesi/ulkus, menurunnya kekuatan umum.
i.        Seksualitas
Adanya peradangan pada daerah vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria.

2.      Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan pengkajian data keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori, maka diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien diabetes mellitus yaitu :

3.      Rencana Keperawatan
a.       Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah.
Tujuan : Mempertahankan sirkulasi  perifer tetap normal.
Kriteria Hasil :
-          Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler
-          Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis
-          Kulit sekitar luka teraba hangat.
-          Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah.
-          Sensorik dan motorik membaik
Rencana tindakan :
-          Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi
Rasional : dengan mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah.
-          Ajarkan tentang faktor-faktor yang dapat meningkatkan aliran darah  : Tinggikan kaki sedikit lebih rendah  dari jantung  ( posisi elevasi pada waktu istirahat ), hindari penyilangkan kaki, hindari balutan ketat, hindari penggunaan bantal, di belakang lutut dan sebagainya.
Rasional : meningkatkan melancarkan aliran darah balik sehingga tidak terjadi oedema.
-          Ajarkan tentang modifikasi faktor-faktor resiko berupa : Hindari diet tinggi kolestrol, teknik relaksasi, menghentikan kebiasaan merokok, dan penggunaan obat vasokontriksi.
Rasional : kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis, merokok dapat menyebabkan terjadinya  vasokontriksi pembuluh darah, relaksasi untuk mengurangi efek dari stres.
-          Kerja sama dengan tim kesehatan lain dalam pemberian vasodilator, pemeriksaan gula darah secara rutin dan terapi oksigen ( HBO ).
Rasional : pemberian vasodilator akan meningkatkan dilatasi pembuluh darah sehingga perfusi jaringan dapat diperbaiki, sedangkan pemeriksaan gula darah secara rutin dapat mengetahui perkembangan dan keadaan pasien, HBO untuk memperbaiki oksigenasi daerah ulkus/gangren.
b.      Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas.
Tujuan : Tercapainya proses penyembuhan luka.
Kriteria hasil :
-    Berkurangnya oedema sekitar luka.
-    pus dan jaringan berkurang
-    Adanya jaringan granulasi.
-    Bau busuk luka berkurang.
Rencana tindakan :
-    Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.
Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
-    Rawat luka dengan baik dan benar  : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
-    Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan  kultur pus  pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik.
Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.
c.       Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis) berhubungan dengan tinggi kadar gula darah.
Tujuan : Tidak terjadi penyebaran infeksi (sepsis).
Kriteria Hasil :
-    Tanda-tanda infeksi tidak ada.
-    Tanda-tanda vital dalam batas normal ( S : 36 – 37,5 0C )
-    Keadaan luka baik dan kadar gula darah normal.
Rencana tindakan :
-    Kaji adanya tanda-tanda penyebaran infeksi pada luka.
Rasional : Pengkajian yang tepat tentang tanda-tanda penyebaran infeksi dapat membantu menentukan tindakan selanjutnya.
-    Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk selalu menjaga kebersihan diri selama perawatan.
Rasional : Kebersihan diri yang baik merupakan salah satu cara untuk mencegah infeksi kuman.
-    Lakukan perawatan luka secara aseptik.
Rasional  : untuk mencegah kontaminasi luka dan penyebaran infeksi.
-    Anjurkan pada pasien agar menaati diet, latihan fisik, pengobatan yang ditetapkan.
Rasional : Diet yang tepat, latihan fisik yang cukup dapat meningkatkan daya tahan tubuh, pengobatan yang tepat, mempercepat penyembuhan sehingga memperkecil kemungkinan terjadi penyebaran infeksi.
-    Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotika dan insulin.
Rasional : Antibiotika dapat menbunuh kuman, pemberian insulin akan menurunkan kadar gula dalam darah sehingga proses penyembuhan.
d.      Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.
Tujuan : rasa cemas berkurang/hilang.
Kriteria Hasil :
-       Pasien dapat mengidentifikasikan sebab kecemasan.
-       Emosi stabil., pasien tenang.
-       Istirahat cukup.
Rencana tindakan :
-       Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien.
Rasional : Untuk menentukan tingkat kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat.
-       Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa cemasnya,
Rasional : Dapat meringankan beban pikiran pasien.
-       Gunakan komunikasi terapeutik.
Rasional : Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan.
-       Beri informasi yang akurat tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan.
Rasional : Informasi yang akurat tentang penyakitnya dan keikutsertaan pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien.
-       Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin.
Rasional : Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.
-       Berikan kesempatan pada keluarga untuk mendampingi pasien secara   bergantian.
Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.
-       Ciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman.
Rasional : lingkung yang tenang dan nyaman dapat membantu mengurangi rasa cemas pasien.
e.       Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan, dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pasien memperoleh informasi yang jelas dan benar tentang penyakitnya.
Kriteria Hasil :
-       Pasien mengetahui tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatannya dan dapat menjelaskan kembali bila ditanya.
-       Pasien dapat melakukan perawatan diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang diperoleh.
Rencana Tindakan :
-       Kaji tingkat pengetahuan pasien/keluarga tentang penyakit DM dan gangren.
Rasional : Untuk memberikan informasi pada pasien/keluarga, perawat perlu mengetahui sejauh mana informasi atau pengetahuan yang diketahui pasien/keluarga.
-       Kaji latar belakang pendidikan pasien.
Rasional : Agar perawat dapat memberikan penjelasan dengan menggunakan kata-kata dan kalimat yang dapat dimengerti pasien sesuai tingkat pendidikan pasien.
-       Jelaskan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan pengobatan pada pasien dengan bahasa dan kata-kata yang mudah dimengerti.
Rasional : Agar informasi dapat diterima dengan mudah dan tepat sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman
-       Jelasakan prosedur yang kan dilakukan, manfaatnya bagi pasien dan libatkan pasien didalamnya.
Rasional : Dengan penjelasdan yang ada dan ikut secra langsung dalam tindakan yang dilakukan, pasien akan lebih kooperatif dan cemasnya berkurang.
-       Gunakan gambar-gambar dalam memberikan penjelasan ( jika ada / memungkinkan).
Rasional : gambar-gambar dapat membantu mengingat penjelasan yang telah diberikan.
f.       Gangguan body image berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh.
Tujuan : Pasien dapat menerima perubahan bentuk salah satu anggota tubuhnya secar positif.
Kriteria Hasil :
-         Pasien mau berinteraksi dan beradaptasi dengan lingkungan. Tanpa rasa malu dan rendah diri.
-         Pasien yakin akan kemampuan yang dimiliki.
Rencana tindakan :
-       Kaji perasaan/persepsi pasien tentang perubahan gambaran diri berhubungan dengan keadaan anggota tubuhnya yang kurang berfungsi secara normal.
Rasional : Mengetahui adanya rasa negatif pasien terhadap dirinya.
-       Lakukan pendekatan dan bina hubungan saling percaya dengan pasien.
Rasional : Memudahkan dalm menggali permasalahan pasien.
-       Tunjukkan rasa empati, perhatian dan penerimaan pada pasien.
Rasional : Pasien akan merasa dirinya di hargai.
-       Bantu pasien untuk mengadakan hubungan dengan orang lain.
Rasional : dapat meningkatkan kemampuan dalam mengadakan hubungan dengan orang lain dan menghilangkan perasaan terisolasi.
-       Beri kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan perasaan kehilangan.
Rasional : Untuk mendapatkan dukungan dalam proses berkabung yang normal.
-       Beri dorongan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan hargai pemecahan masalah yang konstruktif dari pasien.
Rasional : Untuk meningkatkan perilaku yang adiktif dari pasien.

4.      Implementasi
Pelaksanaan adalah tahap pelaksananan terhadap rencana tindakan keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga dibutuhkan ketrampilan interpersonal, intelektual, teknikal yang dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi  yang tepat dengan  selalu memperhatikan keamanan fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi, dilakukan dokumentasi yang meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien.

5.      Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan. Kegiatan evaluasi ini adalah membandingkan hasil yang telah dicapai setelah implementasi keperawatan dengan tujuan yang diharapkan dalam perencanaan.
Perawat mempunyai tiga alternatif dalam menentukan sejauh mana tujuan tercapai:
a.       Berhasil : prilaku pasien sesuai pernyatan tujuan dalam waktu atau tanggal yang ditetapkan di tujuan.
b.      Tercapai sebagian : pasien menunujukan prilaku tetapi tidak sebaik yang ditentukan dalam pernyataan tujuan.
Belum tercapai. : pasien tidak mampu sama sekali menunjukkan prilaku yang diharapakan sesuai dengan pernyataan tujuan.


D.    Simulasi Pendidikan Tentang Penyakit Deabetes Mellitus
Menurut Junaidi (2009) ada tiga jenis pencegahan yang dapat dilakukan pada penderita diabetes :
1.      Pencegahan Primer
Pencegahan primer bertujuan untuk mencegah agar tidak terserang penyakit diabetes. Pencegahan primer dilakukan melalui :
a.       Pola makan yang seimbang
b.      Mempertahankan berat badan dalam batas normal
c.       Olah raga secara teratur
d.      Meningakatkan konsumsi sayur dan buah
e.       Menghindari zat atau obat yang dapat mencetuskan timbulnya diabetes.
2.      Pencegahan Sekunder :
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mendeteksi diabetes secara dini, mencegah penyakit agar tidak bertambah parah, dan mencegah timbulnya komplikasi. Pecegahan antara lain :
a.       Tetap melakukan pencegahan primer
b.      Pengendalian gula darah agar tidak terjadi komplikasi
c.       Mengatasi gula darah dengan obat-obatan baik oral maupun insulin.
d.      Penyuluhan tentang perilaku sehat seperti pada pencegahan primer harus dilaksanakan, ditambahlan dengan unit pelayanan kesehatan primer dipusat-pusat pelayanan kesehatan mulai dari rumah sakit kelas A sampai ke Puskesmas serta memberikan penyuluhan tentang berbagai hal mengenai penatalaksanaan dan pencegahan komplikasi.
3.      Pencegahan Tersier
Tujuan dari pencegahan ini adalah mencegah kecacatan lebih lanjut dari komplikasi yang sudah terjadi, seperti komplikasi pembuluh darah pada mata (pemeriksaan funduskopi setiap 6-12 bulan), otak, tungkai.
Faktor lain yang perlu mendapat perhatian pada pasien diabetes adalah faktor stress dan keadaan emosinya, seperti sikap menyangkal, marah, takut dan depresi.

E.     Hasil Penelitian Tentang Penyakit Diabetes Mellitus
Abstrak
Hubungan Diabetes Melitus dengan Peningkatan Tekanan Intraokuli pada Pasien Glaukoma di Poliklinik Mata RSUP Haji Adam Malik, Medan Periode Juli-Agustus 2011 Authors: Tanoto, Epifanus Arie Advisors: Hidayat, Ruly Abstract (other language): Glaukoma adalah masalah utama pada kebutaan yang irreversibel. Baik di dunia maupun di Indonesia, glaukoma menduduki peringkat kedua penyebab kebutaan pada mata. Statistik menunjukkan sebanyak 0,5% penduduk Indonesia mengalami glaukoma. Salah satu faktor yang diduga berperan dalam terjadinya glaukoma adalah diabetes melitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan diabetes melitus dengan peningkatan tekanan intraokuli pada glaukoma. Metode penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Adapun jumlah sampel yang diperoleh adalah 50 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Penelitian ini dilaksanakan selama dua bulan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik, Medan. Dari analisis hasil penelitian, didapati responden paling banyak berjenis kelamin perempuan (56%) dan banyak responden yang berusia diatas 40 tahun (70%). Selain itu, hanya ditemukan 16 (32%) orang yang mengalami diabetes melitus dan 7 orang (14%) yang tekanan intraokulinya dalam batas normal. Dari analisis hasil, juga diperoleh 13 orang (26%) yang mengalami peningkatan tekanan intraokuli, memiliki riwayat diabetes melitus. Sedangkan responden yang tekanan intraokulinya dalam batas normal dan tidak beriwayat diabetes melitus ada sebanyak 4 orang (8%). Pada uji hipotesis dengan menggunakan Fisher’s Exact test, diperoleh nilai p > 0,05. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara diabetes melitus dengan peningkatan tekanan intraokuli pada glaukoma. Disarankan untuk penelitian selanjutnya agar menambah jumlah sampel, mengubah metode pengumpulan data dan memperluas jangka waktu pengambilan data. Keywords: Glaucoma


F.     Prinsip Legal Dan Etis Pada Kasus Diabetes Mellitus
1.      Otonomi
Memberikan hak kebebasan kepada pasien dengan tidak memaksakan kehendak yang masih pasien ingin lakukan secara mandiri seperti mandi, makan, minum, dan yang lainnya
2.      Beneficience
Berbuat baik misalnya dengan kita mau memberikan tindakan seperti membersihkan luka yang terdapat di kakinya.
3.      Justice
Yaitu adil dengan tidak memilah milih pasien seperti  mau memberikan intervensi membersihkan luka pasien walaupun tidak enak dengan baunya.
4.      Non maleficience
Tidak merugikan orang lain yaitu pasien dengan tetap kita harus hati-hati dalam memberikan intervensi yakni membersihkan luka, pemberian obat, atau yang lainnya untuk menghindari adanya kerugian pada pasien.
5.      Veracity
Jujur dalam memberikan informasi kepada pasien tentang penyakit yang dideritanya.
6.      Fidelity
Menepati janji itu sangat penting yang tidak boleh dilanggar oleh perawat. Perawat harus menepati janji kepada pasien apabila ada janji antara pasien dan perawat dalam menjalani perawatan selama di RS.
7.      Confidentiality
Perawat harus bisa merahasiakan sesuatu tentang pasien apabila pasien memintanya.
8.      Acoountability
Perawat harus bekerja secara professional untuk meningkatkan kualitas kesehatan pasien.
9.      Loyalitas
Setia dalam memberikan pelayanan yang dapat memuaskan pasien untuk menghindari adanya konflik. Dengan setia kepada pasien, pasien akan merasa diperhatikan dan itu dapat meningkatkan derazat kesehatan pasien.
10.  Advokasi
Perawat memberikan saran kepada keluarga pasien agar pasien dirawat inap.


BAB III
PEMBAHASAN KASUS

A.    Scenario kasus 1
Tn. X usia 45 tahun dirawat di RSUD 45 dengan keluhan; luka lama sembuh dan hamper membusuk pada jempol kaki kiri. Menurut istrinya kaki suaminya terluka akibat menginjak paku pada saat Tn. X sedang bekerja di bangunan., namun anehnya suaminya tidak meyadari jika kakinya telah menginjak paku. Istri Tn. X mengatakan bahwa dia telah curiga sejak 8 bulan yang lalu suaminya tampak lemes, mengantuk terus, pagi-pagi pengennya tidur terus, gejala-gejala tersebut serupa dengan yang dialami oleh kedua orangtuanya, istrinya telah menganjurkan untuk segera berobat ke Puskesmas namun ditolak oleh suaminya dan baru mau dibawa ke RS setelah ada luka dikaki. Hasil wawancara dengan Tn. X dia mengatakan penglihatannya kabur sejak 2 bulan yang lalu, klien mengeluh merasa cepat lapar, sering kencing dan sering minum, walaupun sering makan Tn. X mengalami penurunan berat badan dan Tn. X juga mengatakan pernah tiba-tiba pingsan pada saat pagi hari ketika dia belum sarapan. Dari hasil pemeriksaan fisik; tanda-tanda vital TD; 140/90 mmHg, nadi 100x/menit, suhu 36,80C, RR 20x/menit, terdapat penurunan berat badan 5 kg dari sebelum sakit, terdapat luka dengan kondisi bernanah dan banyak jaringan nekrotik, pemeriksaan gula darah sewaktu 460 mg/dl.
Tn. X direncanakan untuk dilakukan sliding scale test. Tn. X mendapatkan terapi metformin 400 mg dan glimenclamid 2.5 mg.


Pertanyaan Kasus
1.      Setelah membaca dan menjawab beberapa pertanyaan yang muncul dari kasus diatas, coba diskusikan system organ apa yang terkait masalah di atas ? Jelaskan dengan menggunakan peta konsep struktur anatomi organ yang terkait serta mekanisme fisiologis system organ itu bekerja !
2.      Coba identifikasi diagnose keperawatan utama pada klien dalam kasus tersebut !
3.      Coba saudara buat clinical pathway dari masalah keperawatan utama pada kasus diatas !
4.      Tindakan-tindakan dan intervensi keperawatan apa saja yang seharusnya dilakukan seorang perawat untuk mengatasi masalah keperawatan utama pada klien dan keluarganya!

B.     Jawaban kasus
1.      System organ yang terkait dengan masalah diatas adalah system endokrin dan organ yang terganggunya adalah organ kelenjar pancreas.
Pankreas merupakan suatu organ berupa kelenjar dengan panjang dan tebal 12,5 cm dan tebal ± 2,5 cm. Pankreas terbentang dari atas sampai kelengkungan besar dari perut dan biasanya dihubungkan oleh dua saluran ke duodenum (usus 12 jari) organ ini dapat diklasifikasikan ke dalam dua bagian yaitu kelenjar endokrin dan eksokrin.
a.       Struktur Pankreas
Pankreas terdiri dari :
-          Kepala pancreas
Merupakan bagian yang paling lebar, terletak disebelah kanan rongga abdomen dan di dalam lakukan duodenum dan yang praktis melingkarinya.
-          Badan pancreas
Merupakan bagian utama pada organ itu dan letaknya di belakang lambuing dan di depan vertebra lumbalis pertama.


-          Ekor pankreas
Merupakan bagian yang runcing di sebelah kiri dan yang sebenarnya menyentuh limfa.
b.      Saluran Pankreas
Pada pankreas terdapat dua saluran yang mengalirkan hasil sekresi pankreas ke dalam duodenum :
-          Ductus wirsung, yang bersatu dengan ductus chole dukus, kemudian masuk ke dalam duodenum melalui sphincter oddi
-          Ductus sartorini, yang lebih kecil langsung masuk ke dalam duodenum di sebelah atas sphincter oddi.
c.       Jaringan pankreas
Ada 2 jaringan utama yang menyusun pankreas :
-          Asini berfungsi untuk mensekresi getah pencernaan dalam duodenum
-          Pulau langerhans
d.      Pulau-pulau langerhans
-          Hormon-hormon yang dihasilkan
§  Insulin
Adalah suatu poliptida mengandung dua rantai asam amino yang dihubungkan oleh gambaran disulfide.
§  Enzim utama yang berperan adalah insulin protease, suatu enzim dimembran sel yang mengalami internalisasi bersama insulin
§  Efek faali insulin yang bersifat luas dan kompleks
-          Efek-efek tersebut biasanya dibagi :
§  Efek cepat (detik)
Peningkatan transport glukosa, asam amino dan k+ ke dalam sel peka insulin.
§  Efek menengah (menit)
Stimulasi sintesis protein, penghambatan pemecahan protein, pengaktifan glikogen sintesa dan enzim-enzim glikolitik.
§  Efek lambat (jam)
-          Peningkatan M RNA enzim lipogenik dan enzim lain
Pengaturan fisiologi kadar glukosa darah sebagian besar tergantung dari :
§  ekstraksi glukosa
§  sintesis glikogen
§  glikogenesis
-          Glukogen
Molekul glukogen adalah polipeptida rantai lurus yang mengandung 29 n residu asam amino dan memiliki 3485 glukogen merupakan hasil dari sel-sel alfa, yang mempunyai prinsip aktivitas fisiologi meningkatkan kadar glukosa darah.
-          Somatostatin
Somatostatin menghambat sekresi insulin, glukogen dan polipeptida pankreas dan mungkin bekerja di dalam pulau-pulau pankreas.
-          Poliptida pankreas
Poliptida pankreas manusia merupakan suatu polipeptida linear yang dibentuk oleh sel pulau langerhans.
Fungsi eksokrin pankreas:
Getah pankreas mengandung enzim-enzim untuk pencernaan ketiga jenis makanan utama, protein, karhohidrat dan lemak. Ia juga mengandung ion bikarbonat dalam jumlah besar, yang memegang peranan penting dalam menetralkan timus asam yang dikeluarkan oleh lambung ke dalam duodenum.
Enzim-enzim proteolitik adalah tripsin, kamotripsin, karboksi, peptidase, ribonuklease, deoksiribonuklease, tiga enzim pertama memecahkan keseluruhan dan secara parsial protein yang dicernakan, sedangkan nuclease memecahkan keuda jenis asam nuklet, asam ribonukleat dan deosinukleat.
Enzim pencernaan untuk karbohidrat adalah amylase pankreas, yang mengidrosis pati, glikogen dan sebagian besar karbohidrat lain kecuali selulosa untuk membentuk karbohidrat, sedangkan enzim-enzim untuk pencernaan lemak adalah lipase pankreas yang menghidrolisis lemak netral menjadi gliserol, asam lemak dan kolesterol esterase yang menyebabkan hidrolisis ester-ester kolesterol.
a.       Pancreatic guice
Sodium bicarboinat memberikan sedikit pH alkalin (7,1 – 8,2) pada pancreatic jurce sehingga menghentikan gerak pepsin dari lambung dan menciptakan lingkungan yang sesuai dengan enzim-enzim dalam usus halus.
b.      Pengaturan sekresi pankreas ada 2 yaitu :
-          Pengaturan saraf
-          Pengaturan hormonal
Fungsi endokrin pankreas
Tersebar diantara alveoli pankreas, terdapat kelompok-kelompok sel epithelium yang jelas, terpisah dan nyata.
Kelompok ini adalah pulau-pulau kecil / kepulauan langerhans yang bersama-sama membentuk organ endokrin.
2.      Diagnose keperawatan utama pada kasus di atas adalah:
Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas ditandai dengan adanya:
DS :
Pasien mengeluh luka lama sembuh dan hamper membusuk pada jempol kiri .
DO:
-          Adanya pus/ nanah
-          Dan terdapat banyak jaringan nekrotik
3.      Clinical pathway pada masalah keperawatan utama diatas adalah:
Defisiensi insulin
Hiperglikemia
Atelesklerosis
Makrovaskuler
Ekstrmitas
Penurunan imunitas/suplai makanan ke jaringan perifer menurun
Luka lama sembuh
Gangrene
Gangguan integritas kulit
4.      Tindakan-tindakan yang harus dilakukan perawat untuk mengatasi masalah keperawatan utama adalah:
a.      Tindakan mandiri:
-          Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan.
Rasional : Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan selanjutnya.
-          Rawat luka dengan baik dan benar  : membersihkan luka secara abseptik menggunakan larutan yang tidak iritatif, angkat sisa balutan yang menempel pada luka dan nekrotomi jaringan yang mati.
Rasional : merawat luka dengan teknik aseptik, dapat menjaga kontaminasi luka dan larutan yang iritatif akan merusak jaringan granulasi tyang timbul, sisa balutan jaringan nekrosis dapat menghambat proses granulasi.
b.      Tindakan kolaborasi
-          Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian insulin, pemeriksaan  kultur pus  pemeriksaan gula darah pemberian anti biotik. Rasional : insulin akan menurunkan kadar gula darah, pemeriksaan kultur pus untuk mengetahui jenis kuman dan anti biotik yang tepat untuk pengobatan, pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit.
BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sistem endokrin adalah sistem kontrol kelenjar tanpa saluran (ductless) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk memengaruhi organ-organ lain. Organ kelenjar endokrin antara lain yaitu:
1.      Kelenjar adrenal
2.      Kelenjar pancreas
3.      Kelenjar hipofise
4.      Kelenjar timus
5.      Kelenjar pienalis
6.      Kelnjat hipotalamus
7.      Kelenjar tiroid.
Yang diamana memiliki fungsi masing-masing.
Diabetes mellitus adalah sindrom yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara tuntutan dan suplai insulin.
Klasifikasi diabetes mellitus antara lain:
1.      Diabetes tipe I : Disebut juga IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus) atau Juvenil Diabetes Melitus.
2.      Diabetes Melitus tipe II : Disebut juga NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes melitus)
3.      Diabetes melitus tipe spesifik lain
4.      Diabetes Melitus Gestasional  GDM (Gestasional Diabetes Melitus

B.     Saran
Saran dari kelompok kami yaitu agar kita semua tetap menjaga kesehatan dan berpola hidup yang sehat. Hindari makanan-makanan, kegiatan-kegiatan yang dapat menjadi pencetus terjadinya suatu penyakit. Apabila sudah terdapat gejala-gejala suatu penyakit seperti Deabetes Mellitus segera datang ke Rumah Sakit agar segera ditangani dan menghindari terjadinya komplikasi yang lebih lanjut. Serta lakukan diet rendah protein dan karbohidrat karena dapat meningkatkan kadar gula yang terkandung dalam darah.
DAFTAR PUSTAKA

Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002
Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.
Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.
Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.
Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.
Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002
http://logisempiris.zoomshare.com/files/bu.../Presentation_endocrine.ppt/
organ endokrin


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar